Gini nih, kalau ayah sedang asyik di depan kompinya. Sampai-sampai ada Arsyad pun tetep dicuekin. Tapi karena rayuan maut Arsyad, akhirnya si ayah mau juga diajak main. Wakakaka :))
Foto ini diambil 4 bulan yang lalu, saat Arsyad berusia 8 bulan di ruang tv..jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Thursday, May 7, 2009
Arsyad dan Ayah *_*
Posted by
elly fithriyanasari
at
Thursday, May 07, 2009
2
comments
Labels: diary
Tuesday, May 5, 2009
Terserang Sindrome Malas :(

Wuaaaaaaaahhhh. Lama banget gak bercuap2 curhat di blog ini. Bukan sok sibuk tetapi beberapa bulan terakhir ini memang sedang konsentrasi di beberapa hal. Halah, apologi, tetep saja sok sibuk namanya :D
Tapi sebenarnya faktor paling utama kenapa tak menulis lagi adalah karena terkena sindrome malassss!!!!
Malas, rupanya penyakit tua ini masih seringkali mendominasi. Beraaaat rasanya untuk melawannya. Banyak teman yang menyemangati untuk terus bikin tulisan tapi tetep saja susyeee untuk memulai. Maafin ya, temans :(
Banyak hal yang pingin kuceritakan tapi bingung harus memulai dari mana. Mulai dari cerita tentang kemesraan Arsyad dengan si Miuw, kemesraan Arsyad dengan ayahnya, keikutsertaan Arsyad dalam lomba merangkak beberapa bulan lalu, sampai sibuknya diriku saat wara wiri dalam pemberkasan lanjutan setelah SK turun.
Nanti dehh, habis ini nulis lagi hal2 ringan yang terlakoni setiap hari. Semoga bisa konsisten.
whuaaahhh...nguantuk banget.... bobok dulu aaahh... besok dilanjut lagi
malang, 060501
Posted by
elly fithriyanasari
at
Tuesday, May 05, 2009
0
comments
Labels: diary
Saturday, April 4, 2009
Dompet Batik Pria
Ayo semua...lihat-lihat koleksi baruku yuk...kali ini koleksi baruku bertema batik, yaitu dompet batik khusus untuk pria...
ayo ayo..yang sayang suami..sayang suami...pesan dompet ini sebagai hadiah untuk yang tersayang!
untuk pemesanan pm atau sms saja aku di 081584160101
aku tunggu pesanannya ya...
Posted by
elly fithriyanasari
at
Saturday, April 04, 2009
2
comments
Labels: bisnis
Friday, March 6, 2009
Catatan Mbak Siti......*^*

Mataku menatap televisi namun tidak dengan pikiranku. Aku masih merasakan sakit dan lemas. Bukan hanya fisikku, tetapi batinku. Sinetron “Muslimah” masih terpampang, anak-anak sedang belajar. Nurul putri sulungku kini telah kelas tiga SMP, dia anak yang rajin dan pendiam. Rohmat, putera ke duaku kini kelas lima SD, dia anak yang gesit dan periang. Aah, Tuhan begitu baik memberikanku buah hati yang penurut.
“Kamu sakit, Bu?”
Suara di sampingku sedikit mengagetkanku.
“Ndak apa-apa kok, Pak. Cuma agak capek”
Kulempar senyum ke suamiku.
“Sebaiknya kalau kerja ndak usah dipaksakan, kalau kuatnya sehari kerja di dua tempat ya dua tempat saja. Nggak usah di tiga tempat” Suamiku menasehati
“Ndak apa-apa kok, Pak. Insya Allah masih kuat” kupermanis senyumanku
Suamiku orang yang paling perhatian. Sehari-hari dia melayani reparasi barang-barang elektronik di rumah. Kehidupan kami memang sangat pas-pasan. Hanya cukup untuk keperluan harian yang seadanya, bahkan sering ngebon di warung mbak Minah hanya untuk beli sembako. Karena itulah kuputuskan untuk bekerja, sebagai pembantu rumah tangga. Suamiku sangat keberatan saat aku mengajukan keinginanku untuk bekerja.
“Ndak usah sajalah, Bu”
“Kenapa ndak boleh, Pak?”
“Apa Ibu ndak malu? Jadi pembantu itu bukan cuma capek, tapi harus kuat hati”
“Ndak apa-apa, Pak. Kebutuhan kita semakin banyak. Apa-apa sekarang mahal. Apalagi untuk sekolah anak-anak kita. Kalau hanya dari penghasilan Bapak, ya mana mungkin cukup”
“Tapi, Bu...”
“Tolonglah, Pak. Izinkan Ibu untuk bekerja. Lha ibu ndak punya keterampilan apa-apa, bisanya ya cuma jadi pembantu. Yang penting halal, Pak”
“Ya, sudah. Tapi jangan dipaksakan ya”
“Jangan khawatir, Pak”
Kuberikan senyuman untuk suamiku. Dia memelukku haru. Sampai saat ini sudah dua tahun berjalan. Aku bekerja sebagai pembantu di sebuah komplek perumahan mewah di dekat kampungku. Tugasku setiap hari selayaknya pembantu pada umumnya, menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika dan lainnya. Namun aku tidak tinggal menginap, tetapi pulang saat pekerjaanku telah selesai. Sampai sekarang ada lima keluarga yang membutuhkan jasaku. Rata-rata majikanku orang yang baik. Sampai saat ini aku belum pernah bermasalah dengan mereka. Setiap hari aku mampu membatu di tiga tempat. Aku dibayar berdasarkan kedatanganku. Dan alhamdulillah kebutuhan kehidupan keluarga kami agak membaik.
Tapi ada seorang majikan laki-lakiku yang berbeda. Namanya pak Tomi, umurnya kira-kira kepala empat. Istrinya, bu Siska, beliau yang sangat baik. Dadaku terasa sesak saat mengingat kejadian sore tadi. Saat aku sedang menyeterika pakaian di dalam salah satu kamar di lantai bawah. Pak Tomi tiba-tiba masuk ke kamar tempatku menyeterika, pintunya memang terbuka. Semula dia menyapaku ramah.
“Mbak Siti rajin, ya”
“Biasa saja, Pak. Sudah kewajiban” Jawabku sopan
“Mbak Siti sekarang umur berapa?”
“Tigapuluh tiga, Pak”
“Ooh, masih muda ya. Anaknya berapa?”
“Dua, Pak”
“Kelas berapa?”
“Sulung kelas tiga SMP, yang nomer dua kelas lima SD, Pak”
“Sudah besar-besar ya”
Kuberikan senyuman saja. Sampai di sini Pak Tomi masih terkesan ramah dan perhatian.
“Nggak pingin nambah anak, mbak?”
“Ndak, Pak. Dua saja sudah repot”
“Mbak Siti kan masih muda, segar, badannya bagus, pasti suaminya seneng, ya”
Aku merasa tak nyaman mulai dari pembicaraan ini. Tak kujawab pertanyaannya, hanya kulempar senyum saja.
“Beda dengan istriku, payah, mbak. Perempuan kalau sudah habis operasi caesar itu nggak bisa asyik di tempat tidur”
Tak kutanggapi lagi pernyataannya, pernyataan yang tak sepantasnya dilontarkan padaku.
“Kalau Mbak Siti mungkin hebat saat di ranjang ya, hehehe”
Aku mulai risih dengan pembicaraan ini. Apalagi tatapan mata pak Tomi seolah menelanjangiku. Mataku mencari-cari Bu Siska, tetapi tak menemukannya. Mungkin dia masih di kamarnya.
“Hmmm...saya jadi iri sama suamimu, Mbak”
“Saya pingin juga merasakan “permainan ranjang” bareng mbak Siti”
Aku tersentak kaget. Pernyataannya sudah ngawur ngelantur. Aku sudah muak dan merasa dilecehkan.
“Maaf, Pak!”
Sergahku agar pak Tomi tak melanjutkan pembicaraan.
“Mbak Siti semakin menarik kalau melotot begitu, menggairahkan!”
Aku sudah tak sanggup lagi bertahan di dalam kamar itu. Kalau diteruskan, aku akan dilecehkan bukan hanya secara lisan tetapi lebih. Laki-laki ini benar-benar tak menghargai perempuan apalagi yang berjilbab sepertiku. Aku memang pembantu, tetapi tetap punya harga diri. Pakaian seterikaan belum tuntas kuselesaikan. Setengah berlari aku menghambur ke luar kamar. Segera kuambil sapu untuk menyapu ruang tamu, syukurlah kutemukan bu Siska di ruang keluarga. Badanku menggigil, bibirku bergetar. Belum pernah seumur hidupku aku dilecehkan macam ini. Pak Tomi tak berani mendekatiku lantaran aku selalu berada di dekat bu Siska. Kemudian dia masuk ke kamarnya di lantai atas. Segera kutuntaskan pekerjaanku dan pamit pulang kepada bu Siska.
“Maaf bu, lantai atas tidak saya bersihkan, saya agak sakit”
Aku tak berbohong, badanku memang terasa lemas. Terlebih perasaanku.
“Ooh, iya gak papa, mbak Siti. Ini sekalian gaji yang kemarin”
Sambil memberikan amplop berisi gajiku bulan lalu.
“Terimakasih, Bu. Saya pamit”
“Iya, Mbak. Hati-hati ya”
Segera kukayuh sepedaku untuk pulang. Badanku terasa lunglai, bibirku pun masih bergetar. Air mataku mengucur sepanjang jalan. Pernyataan pak Tomi masih terngiang menyakitkan. Dan hari ini kuputuskan terakhir kalinya aku bekerja di rumah itu.
“Mau tak pijitin, Bu?”
Suara suamiku membuyarkan lamunanku. Aah, suamiku yang sederhana dan perhatian. Sengaja kusimpan kisah hari ini sendiri. Aku tak mau melukai hatinya. Saat dia mengetahui hal yang menimpaku hari ini, pasti tak diizinkannya aku bekerja di rumah pak Tomi bahkan di rumah yang lain. Padahal penghasilanku sangat membantu kelangsungan kehidupan keluargaku.
-------------
Aku bangun dalam sepertiga malamku, kuambil air wudlu. Kutumpahkan seluruh kesahku hanya kepadaNya. Kupinta perlindungan dari segala fitnah dan perbuatan keji.
Posted by
elly fithriyanasari
at
Friday, March 06, 2009
8
comments
Labels: cerpen
Wednesday, March 4, 2009
Aseeek, dapet Award ^_^

Ups siapa yang dapet Award???? Akyuuu??? Jauuuuuuuh, buuuuk :)) hahaha
Kemarin malam si Ayah pulang dari kantor sambil bawa boneka panda aneh.
"Dari mana nih, Yah?" tanyaku menyelidik, gak biasanya ayah beli boneka segala.
"Dapat hadiah dari kantor" jawab ayah tersipu. (lho kok tersipu???)
"Kok... dalam rangka apa?" tambah penasaran
"Perusahaan ulang tahun, ada award berdasarkan polling di kantor. Nah, aku menang award kategori Paling Pendiam"
Hahaha....Gak heraaaan. Si Ayah tuh emang terkenal paling pendiem di kantornya *menurutku sih jaim* :D hohoho, piss, Yah!
Dalam rangka memeriahkan ulang tahun perusahaan tempat si Ayah bekerja, diadakan polling dengan kategori aneh-aneh yang ditujukan ke sekira seratusan karyawan. Nah si Ayah menang kategori paling pendiam.
Untung aja nggak dapat award kategori paling dekil hihihi. Karena ada salah satu karyawan yang mendapatkan award dengan kategori tersebut. Kalau sampai dapet, mau ditaruh di mana mukaku sebagai istriiiiiiii :(
Malang, Rabu,040309
Posted by
elly fithriyanasari
at
Wednesday, March 04, 2009
0
comments
Labels: diary
Monday, March 2, 2009
Wedang Jahe Hangat, hmmm...*^

"Bung..bung..bung.." bukan teriakan orang manggil pemuda selayaknya tahun 60an lho!
Itu bunyi bunyi perutku yang kembung minta ampun. Bukan maagh lho, tapi gara-gara masuk angin *ngira2 sendiri* :D
Gimana gak masuk angin, laah beberapa hari ini malang duingin bianget.
Hujan mengguyur nyaris tanpa henti sejak seminggu terakhir.
"Mana ujan, bechek, gak ada ojhek" menyitir Cita Laura :D hihihi
Alhasil masuk angin deh, badan pegel-pegel, perut kembung.
Celingak-celinguk ngobrak-abrik isi kulkas, aaah, akhirnya nemu beberapa ruas jahe dan kayu manis.
Dapat ide untuk bikin wedang jahe nih.
Segera kukeluarkan kedua bahan itu. Setelah mengupas kulitnya, jahe kucuci lalu kuparut.
Jahe yang telah diparut kurebus bersama dengan kayu manis. Hmm..aromanya sedaap :D
Tapi kayaknya kok masih kurang ya, hmm... sere!!!
Aku segera ke luar rumah untuk mengambil beberapa batang sere.
setahun yang lalu aku menanamnya di depan rumah, semula sih hanya tiga bulir kutancapkan.
Sekarang berubah jadi tiga dompol rimbun banget. Lumayan buat ngusir nyamuk :D hihihi
Sere yang telah kuambil, kucuci lalu dicemplungin ke panci bareng jahe dan kayu manis.
Hmmmm...aromanya tambah suedddappp....*ngiler*
Hmmm....maghrib datang, slruuuup...aahhhh..wedang jahe hangat menjadi minuman pembuka puasa.
Mana hujan-hujan dan duingin begini, nikmat banget deh :D hohoho
Arsyad sudah bobok, si ayah masih di kantor.
Ngeblog ajah aaah...ditemani secangkir wedang jahe hangat plus roti bakar, hmmm nikmat.
Badan jadi anget banget. Nikmatnya lagi, kembungku ilaaaaang.
Hayooo, sapa mau wedang jahe? Ke Malang ajah :P
Posted by
elly fithriyanasari
at
Monday, March 02, 2009
5
comments
Labels: diary
Wednesday, February 25, 2009
Langit-Langit Desa

Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Muhammad Zuhri
Muhammad Zuhri, dalam karya tulisnya kali ini yang berjudul Langit-langit Desa: Himpunan Hikmah dari Sekarjalak.
Buku ini pada tahun 1993 pernah diterbitkan oleh Mizan, pada tahun 2004 diterbitkan oleh Yayasan Barzakh, tahun 2008 diterbitkan oleh Kreasi Wacana Yogyakarta. (Saya hanya memiliki terbitan Mizan dan barzakh, sedangkan terbitan Kreasi Wacana belum dapat.)
Buku ini merupakan himpunan hikmah perjalanan hidup dari Sekarjalak. Sekarjalak adalah desa kecil di wilayah Pati, Jawa Tengah. Di desa inilah penulis tinggal dengan kesibukannya sebagai “pelayan ruhaniah” kepada para tamu tak diundang. Kebanyakan dari mereka adalah para pencari yang tidak pernah menemukan solusi hidup mereka. Penulis yang asal namanya Muhammad bin Zuhri ini, memiliki ciri unik sejak kecil. Yakni menaiki dan turun sepeda dari sebelah kanan. Seolah sebagai isyarat tentang jalan hidupnya kelak.
Buku ini merupakan buah karya yang dituliskan berdasarkan pengalaman dalam perbincangan dengan tetamunnya. Yang saat dibaca ampu memberikan pencerahan serta hikmah yang dapat dipetik oleh pembaca.
Membaca karya ini kita akan selalu merasakan sinar pencerahan dari setiap kata yang tersusun indah. Betapa tidak! Bermula dari ilmu dan Laku Kalinyamat—telanjang berbusana rambut, atau menurut Shinta, “Gelung rusak wor lan kisma” (terurainya gelung sampai rambutnya menyentuh tanah)—yang oleh para zahid di pantai utara disublimasi menjadi: puasa telanjang berjubah janggut.
Lebih lanjut, buku yang ditulis Pak Muh, juga diliputi oleh suasana dzikrullah. Misalnya, “Kalau engkau senantiasa ingat akan samudera, hatimu akan menganggap kecil terhadap kolam air yang engkau miliki,” merupakan kata-kata sederhana tetapi memiliki kedalaman makna. Sehingga pembaca perlu sedikit merenung untuk menangkap isi dan makna yang dikandung.
Bisa dikatakan buku ini begitu mengesankan karena banyak hikmah yang bisa diambil di dalamnya, juga karena penyajiannya yang relatif baik. Buku ini tidak hanya mengajak kita ber-tafakkur dan tadzakur. Melainkan kita bahkan diajak ber-tadzabbur, yakni bermata keibuan–penglihatan yang dapat melihat anak yang sangat dicintainya meskipun ia tinggal di balik bumi.
Sebagai sebuah buku sastra, di dalamnya banyak terdapat maksud yang tidak mudah dicerna. Sehingga kesan yang didapat kadang masih membingungkan. Maka perlu membaca berulang-ulang untuk memperoleh pemahaman.
Secara keseluruhan buku ini mengandung 144 buah hikmah. Masing-masing hikmah di dalamnya memiliki makna yang berbeda-beda. Diawali dengan hikmah yang berjudul Yang Telanjang Berjubah Janggut, yakni ilmu dan Laku Kalinyamat. Kemudian ditutup dengan hikmah Rahasia Mukjizat. Hikmah terakhir tersebut merupakan pengalaman perbincang-an antara seorang guru dengan wartawan.
Dengan bahasa yang jernih dan sarat makna, buku ini bukan sekadar bacaan waktu luang. Melainkan sebagai bahan renungan para pembaca.
Silakan baca deh :)
Posted by
elly fithriyanasari
at
Wednesday, February 25, 2009
0
comments
Labels: resensi
