.jpg)
Keputusan menjadi ibu yang bekerja memang tidak mudah. Banyak hal yang harus bisa dimenej sehingga bisa seimbang baik dalam keluarga, maupun dalam profesinya. Banyak hal yang musti dipertanggungjawabkan secara proporsional. Butuh energi yang besar untuk mampu menjaga agar balans.
Aku memang tidak sepakat dengan paham Patriarki, yang mengutamakan kepentingan para lelaki sebagai pemimpin baik dalam rumah tangga maupun bidang yang lain. Sehingga dalam banyak sisi perempuan tidak diperlakukan secara utuh sebagai manusia dengan segala potensi yang patut untuk dikembangkan dan diaktualisasikan. Tapi aku juga bukan seorang feminis. Yang menuntut persamaan hak sebagaimana laki-laki tanpa ada batasan apapun. Bahkan parahnya, kalau laki-laki bisa poligami maka perempuan pun bisa poliandri *boleh juga tuh!! wkwkwk...
Beruntungnya aku karena mempunyai partner yang tidak memasung kreativitas maupun potensi yang ada dalam diriku. Bukan hanya untuk aktualisasi diri, tetapi keyakinan bahwa setiap individu adalah pemimpin. Paling tidak sebagai pemimpin bagi diri sendiri yang kelak akan dipertanggungjawabkan sediri dengan sang Khaliq. Apalagi jika dengan potensinya mampu turut serta mewujudkan tatanan masyarakat yang diridhoi Allah.
Aku mengakui gerak langkahku masih kecil. Dan mungkin juga belum banyak kontribusi yang bisa kulakukan untuk ummat. Semua serba terbatas. Sebagai istri dan ibu, aku masih sangat memerlukan bantuan si embak untuk meringankan tugas di dalam rumah. Sebagai anak, yang ada hanya selalu merepotkan orang tua sejak dalam kandungan sampai setua ini, ampyuuuuunn. Belum lagi label-label lain dalam diri baik sebagai individu maupun makhluk sosial, belum ada hal berarti yang kulakukan.
Hanya hal remeh temeh yang bisa ukerjakan, menemani Arsyad bermain. Menyaksikannya bertumbuh dan berkembang. Bermain bersama anak-anak di sekolah. Menyaksikan mereka mempelajari hal-hal kecil di sekitarnya. Menikmati celoteh polos. Terkadang membayangkan hal indah, Inilah para calon pemimpin bangsa. Atau bahkan bayangan mengerikan, akan jadi apa anak-anakku yang putus sekolah. Jadi gembel, pengemis, preman, sampah masyarakat???? Naudzubillah mindzalik!!!
Menurutku, bagaimanapun juga akar perempuan adalah ranah domestik rumah tangga. Aku sangat memuji seorang perempuan yang mendedikasikan dirinya utuh demi anak-anak dan keluarganya. Bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Tantangan yang setiap hari dihadapi memerlukan energi tingkat tinggi. Kemampuan menangkap perkembangan zaman juga mutlak diperlukan. Untuk anak-anak yang berkualitas unggul diperlukan para ibu yang cerdas!!! Para ibu yang mau belajar terus tanpa mengenal batasan usia. Dan yang paling penting harus ada partner yang selalu siaga!
Ayuuuk belajaaaarrrrr!!!!!
Mlg, 111109
Wednesday, November 11, 2009
Tak Ada Yang Sempurna
Posted by
elly fithriyanasari
at
Wednesday, November 11, 2009
2
comments
Labels: diary
Saturday, July 18, 2009
............
Karena kau begitu indah
karena kau begitu berharga
.............
Posted by
elly fithriyanasari
at
Saturday, July 18, 2009
1 comments
Thursday, May 7, 2009
Arsyad dan Ayah *_*
Gini nih, kalau ayah sedang asyik di depan kompinya. Sampai-sampai ada Arsyad pun tetep dicuekin. Tapi karena rayuan maut Arsyad, akhirnya si ayah mau juga diajak main. Wakakaka :))
Foto ini diambil 4 bulan yang lalu, saat Arsyad berusia 8 bulan di ruang tv..jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Posted by
elly fithriyanasari
at
Thursday, May 07, 2009
2
comments
Labels: diary
Tuesday, May 5, 2009
Terserang Sindrome Malas :(

Wuaaaaaaaahhhh. Lama banget gak bercuap2 curhat di blog ini. Bukan sok sibuk tetapi beberapa bulan terakhir ini memang sedang konsentrasi di beberapa hal. Halah, apologi, tetep saja sok sibuk namanya :D
Tapi sebenarnya faktor paling utama kenapa tak menulis lagi adalah karena terkena sindrome malassss!!!!
Malas, rupanya penyakit tua ini masih seringkali mendominasi. Beraaaat rasanya untuk melawannya. Banyak teman yang menyemangati untuk terus bikin tulisan tapi tetep saja susyeee untuk memulai. Maafin ya, temans :(
Banyak hal yang pingin kuceritakan tapi bingung harus memulai dari mana. Mulai dari cerita tentang kemesraan Arsyad dengan si Miuw, kemesraan Arsyad dengan ayahnya, keikutsertaan Arsyad dalam lomba merangkak beberapa bulan lalu, sampai sibuknya diriku saat wara wiri dalam pemberkasan lanjutan setelah SK turun.
Nanti dehh, habis ini nulis lagi hal2 ringan yang terlakoni setiap hari. Semoga bisa konsisten.
whuaaahhh...nguantuk banget.... bobok dulu aaahh... besok dilanjut lagi
malang, 060501
Posted by
elly fithriyanasari
at
Tuesday, May 05, 2009
0
comments
Labels: diary
Saturday, April 4, 2009
Dompet Batik Pria
Ayo semua...lihat-lihat koleksi baruku yuk...kali ini koleksi baruku bertema batik, yaitu dompet batik khusus untuk pria...
ayo ayo..yang sayang suami..sayang suami...pesan dompet ini sebagai hadiah untuk yang tersayang!
untuk pemesanan pm atau sms saja aku di 081584160101
aku tunggu pesanannya ya...
Posted by
elly fithriyanasari
at
Saturday, April 04, 2009
2
comments
Labels: bisnis
Friday, March 6, 2009
Catatan Mbak Siti......*^*

Mataku menatap televisi namun tidak dengan pikiranku. Aku masih merasakan sakit dan lemas. Bukan hanya fisikku, tetapi batinku. Sinetron “Muslimah” masih terpampang, anak-anak sedang belajar. Nurul putri sulungku kini telah kelas tiga SMP, dia anak yang rajin dan pendiam. Rohmat, putera ke duaku kini kelas lima SD, dia anak yang gesit dan periang. Aah, Tuhan begitu baik memberikanku buah hati yang penurut.
“Kamu sakit, Bu?”
Suara di sampingku sedikit mengagetkanku.
“Ndak apa-apa kok, Pak. Cuma agak capek”
Kulempar senyum ke suamiku.
“Sebaiknya kalau kerja ndak usah dipaksakan, kalau kuatnya sehari kerja di dua tempat ya dua tempat saja. Nggak usah di tiga tempat” Suamiku menasehati
“Ndak apa-apa kok, Pak. Insya Allah masih kuat” kupermanis senyumanku
Suamiku orang yang paling perhatian. Sehari-hari dia melayani reparasi barang-barang elektronik di rumah. Kehidupan kami memang sangat pas-pasan. Hanya cukup untuk keperluan harian yang seadanya, bahkan sering ngebon di warung mbak Minah hanya untuk beli sembako. Karena itulah kuputuskan untuk bekerja, sebagai pembantu rumah tangga. Suamiku sangat keberatan saat aku mengajukan keinginanku untuk bekerja.
“Ndak usah sajalah, Bu”
“Kenapa ndak boleh, Pak?”
“Apa Ibu ndak malu? Jadi pembantu itu bukan cuma capek, tapi harus kuat hati”
“Ndak apa-apa, Pak. Kebutuhan kita semakin banyak. Apa-apa sekarang mahal. Apalagi untuk sekolah anak-anak kita. Kalau hanya dari penghasilan Bapak, ya mana mungkin cukup”
“Tapi, Bu...”
“Tolonglah, Pak. Izinkan Ibu untuk bekerja. Lha ibu ndak punya keterampilan apa-apa, bisanya ya cuma jadi pembantu. Yang penting halal, Pak”
“Ya, sudah. Tapi jangan dipaksakan ya”
“Jangan khawatir, Pak”
Kuberikan senyuman untuk suamiku. Dia memelukku haru. Sampai saat ini sudah dua tahun berjalan. Aku bekerja sebagai pembantu di sebuah komplek perumahan mewah di dekat kampungku. Tugasku setiap hari selayaknya pembantu pada umumnya, menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika dan lainnya. Namun aku tidak tinggal menginap, tetapi pulang saat pekerjaanku telah selesai. Sampai sekarang ada lima keluarga yang membutuhkan jasaku. Rata-rata majikanku orang yang baik. Sampai saat ini aku belum pernah bermasalah dengan mereka. Setiap hari aku mampu membatu di tiga tempat. Aku dibayar berdasarkan kedatanganku. Dan alhamdulillah kebutuhan kehidupan keluarga kami agak membaik.
Tapi ada seorang majikan laki-lakiku yang berbeda. Namanya pak Tomi, umurnya kira-kira kepala empat. Istrinya, bu Siska, beliau yang sangat baik. Dadaku terasa sesak saat mengingat kejadian sore tadi. Saat aku sedang menyeterika pakaian di dalam salah satu kamar di lantai bawah. Pak Tomi tiba-tiba masuk ke kamar tempatku menyeterika, pintunya memang terbuka. Semula dia menyapaku ramah.
“Mbak Siti rajin, ya”
“Biasa saja, Pak. Sudah kewajiban” Jawabku sopan
“Mbak Siti sekarang umur berapa?”
“Tigapuluh tiga, Pak”
“Ooh, masih muda ya. Anaknya berapa?”
“Dua, Pak”
“Kelas berapa?”
“Sulung kelas tiga SMP, yang nomer dua kelas lima SD, Pak”
“Sudah besar-besar ya”
Kuberikan senyuman saja. Sampai di sini Pak Tomi masih terkesan ramah dan perhatian.
“Nggak pingin nambah anak, mbak?”
“Ndak, Pak. Dua saja sudah repot”
“Mbak Siti kan masih muda, segar, badannya bagus, pasti suaminya seneng, ya”
Aku merasa tak nyaman mulai dari pembicaraan ini. Tak kujawab pertanyaannya, hanya kulempar senyum saja.
“Beda dengan istriku, payah, mbak. Perempuan kalau sudah habis operasi caesar itu nggak bisa asyik di tempat tidur”
Tak kutanggapi lagi pernyataannya, pernyataan yang tak sepantasnya dilontarkan padaku.
“Kalau Mbak Siti mungkin hebat saat di ranjang ya, hehehe”
Aku mulai risih dengan pembicaraan ini. Apalagi tatapan mata pak Tomi seolah menelanjangiku. Mataku mencari-cari Bu Siska, tetapi tak menemukannya. Mungkin dia masih di kamarnya.
“Hmmm...saya jadi iri sama suamimu, Mbak”
“Saya pingin juga merasakan “permainan ranjang” bareng mbak Siti”
Aku tersentak kaget. Pernyataannya sudah ngawur ngelantur. Aku sudah muak dan merasa dilecehkan.
“Maaf, Pak!”
Sergahku agar pak Tomi tak melanjutkan pembicaraan.
“Mbak Siti semakin menarik kalau melotot begitu, menggairahkan!”
Aku sudah tak sanggup lagi bertahan di dalam kamar itu. Kalau diteruskan, aku akan dilecehkan bukan hanya secara lisan tetapi lebih. Laki-laki ini benar-benar tak menghargai perempuan apalagi yang berjilbab sepertiku. Aku memang pembantu, tetapi tetap punya harga diri. Pakaian seterikaan belum tuntas kuselesaikan. Setengah berlari aku menghambur ke luar kamar. Segera kuambil sapu untuk menyapu ruang tamu, syukurlah kutemukan bu Siska di ruang keluarga. Badanku menggigil, bibirku bergetar. Belum pernah seumur hidupku aku dilecehkan macam ini. Pak Tomi tak berani mendekatiku lantaran aku selalu berada di dekat bu Siska. Kemudian dia masuk ke kamarnya di lantai atas. Segera kutuntaskan pekerjaanku dan pamit pulang kepada bu Siska.
“Maaf bu, lantai atas tidak saya bersihkan, saya agak sakit”
Aku tak berbohong, badanku memang terasa lemas. Terlebih perasaanku.
“Ooh, iya gak papa, mbak Siti. Ini sekalian gaji yang kemarin”
Sambil memberikan amplop berisi gajiku bulan lalu.
“Terimakasih, Bu. Saya pamit”
“Iya, Mbak. Hati-hati ya”
Segera kukayuh sepedaku untuk pulang. Badanku terasa lunglai, bibirku pun masih bergetar. Air mataku mengucur sepanjang jalan. Pernyataan pak Tomi masih terngiang menyakitkan. Dan hari ini kuputuskan terakhir kalinya aku bekerja di rumah itu.
“Mau tak pijitin, Bu?”
Suara suamiku membuyarkan lamunanku. Aah, suamiku yang sederhana dan perhatian. Sengaja kusimpan kisah hari ini sendiri. Aku tak mau melukai hatinya. Saat dia mengetahui hal yang menimpaku hari ini, pasti tak diizinkannya aku bekerja di rumah pak Tomi bahkan di rumah yang lain. Padahal penghasilanku sangat membantu kelangsungan kehidupan keluargaku.
-------------
Aku bangun dalam sepertiga malamku, kuambil air wudlu. Kutumpahkan seluruh kesahku hanya kepadaNya. Kupinta perlindungan dari segala fitnah dan perbuatan keji.
Posted by
elly fithriyanasari
at
Friday, March 06, 2009
8
comments
Labels: cerpen
Wednesday, March 4, 2009
Aseeek, dapet Award ^_^

Ups siapa yang dapet Award???? Akyuuu??? Jauuuuuuuh, buuuuk :)) hahaha
Kemarin malam si Ayah pulang dari kantor sambil bawa boneka panda aneh.
"Dari mana nih, Yah?" tanyaku menyelidik, gak biasanya ayah beli boneka segala.
"Dapat hadiah dari kantor" jawab ayah tersipu. (lho kok tersipu???)
"Kok... dalam rangka apa?" tambah penasaran
"Perusahaan ulang tahun, ada award berdasarkan polling di kantor. Nah, aku menang award kategori Paling Pendiam"
Hahaha....Gak heraaaan. Si Ayah tuh emang terkenal paling pendiem di kantornya *menurutku sih jaim* :D hohoho, piss, Yah!
Dalam rangka memeriahkan ulang tahun perusahaan tempat si Ayah bekerja, diadakan polling dengan kategori aneh-aneh yang ditujukan ke sekira seratusan karyawan. Nah si Ayah menang kategori paling pendiam.
Untung aja nggak dapat award kategori paling dekil hihihi. Karena ada salah satu karyawan yang mendapatkan award dengan kategori tersebut. Kalau sampai dapet, mau ditaruh di mana mukaku sebagai istriiiiiiii :(
Malang, Rabu,040309
Posted by
elly fithriyanasari
at
Wednesday, March 04, 2009
0
comments
Labels: diary
