
Mataku menatap televisi namun tidak dengan pikiranku. Aku masih merasakan sakit dan lemas. Bukan hanya fisikku, tetapi batinku. Sinetron “Muslimah” masih terpampang, anak-anak sedang belajar. Nurul putri sulungku kini telah kelas tiga SMP, dia anak yang rajin dan pendiam. Rohmat, putera ke duaku kini kelas lima SD, dia anak yang gesit dan periang. Aah, Tuhan begitu baik memberikanku buah hati yang penurut.
“Kamu sakit, Bu?”
Suara di sampingku sedikit mengagetkanku.
“Ndak apa-apa kok, Pak. Cuma agak capek”
Kulempar senyum ke suamiku.
“Sebaiknya kalau kerja ndak usah dipaksakan, kalau kuatnya sehari kerja di dua tempat ya dua tempat saja. Nggak usah di tiga tempat” Suamiku menasehati
“Ndak apa-apa kok, Pak. Insya Allah masih kuat” kupermanis senyumanku
Suamiku orang yang paling perhatian. Sehari-hari dia melayani reparasi barang-barang elektronik di rumah. Kehidupan kami memang sangat pas-pasan. Hanya cukup untuk keperluan harian yang seadanya, bahkan sering ngebon di warung mbak Minah hanya untuk beli sembako. Karena itulah kuputuskan untuk bekerja, sebagai pembantu rumah tangga. Suamiku sangat keberatan saat aku mengajukan keinginanku untuk bekerja.
“Ndak usah sajalah, Bu”
“Kenapa ndak boleh, Pak?”
“Apa Ibu ndak malu? Jadi pembantu itu bukan cuma capek, tapi harus kuat hati”
“Ndak apa-apa, Pak. Kebutuhan kita semakin banyak. Apa-apa sekarang mahal. Apalagi untuk sekolah anak-anak kita. Kalau hanya dari penghasilan Bapak, ya mana mungkin cukup”
“Tapi, Bu...”
“Tolonglah, Pak. Izinkan Ibu untuk bekerja. Lha ibu ndak punya keterampilan apa-apa, bisanya ya cuma jadi pembantu. Yang penting halal, Pak”
“Ya, sudah. Tapi jangan dipaksakan ya”
“Jangan khawatir, Pak”
Kuberikan senyuman untuk suamiku. Dia memelukku haru. Sampai saat ini sudah dua tahun berjalan. Aku bekerja sebagai pembantu di sebuah komplek perumahan mewah di dekat kampungku. Tugasku setiap hari selayaknya pembantu pada umumnya, menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika dan lainnya. Namun aku tidak tinggal menginap, tetapi pulang saat pekerjaanku telah selesai. Sampai sekarang ada lima keluarga yang membutuhkan jasaku. Rata-rata majikanku orang yang baik. Sampai saat ini aku belum pernah bermasalah dengan mereka. Setiap hari aku mampu membatu di tiga tempat. Aku dibayar berdasarkan kedatanganku. Dan alhamdulillah kebutuhan kehidupan keluarga kami agak membaik.
Tapi ada seorang majikan laki-lakiku yang berbeda. Namanya pak Tomi, umurnya kira-kira kepala empat. Istrinya, bu Siska, beliau yang sangat baik. Dadaku terasa sesak saat mengingat kejadian sore tadi. Saat aku sedang menyeterika pakaian di dalam salah satu kamar di lantai bawah. Pak Tomi tiba-tiba masuk ke kamar tempatku menyeterika, pintunya memang terbuka. Semula dia menyapaku ramah.
“Mbak Siti rajin, ya”
“Biasa saja, Pak. Sudah kewajiban” Jawabku sopan
“Mbak Siti sekarang umur berapa?”
“Tigapuluh tiga, Pak”
“Ooh, masih muda ya. Anaknya berapa?”
“Dua, Pak”
“Kelas berapa?”
“Sulung kelas tiga SMP, yang nomer dua kelas lima SD, Pak”
“Sudah besar-besar ya”
Kuberikan senyuman saja. Sampai di sini Pak Tomi masih terkesan ramah dan perhatian.
“Nggak pingin nambah anak, mbak?”
“Ndak, Pak. Dua saja sudah repot”
“Mbak Siti kan masih muda, segar, badannya bagus, pasti suaminya seneng, ya”
Aku merasa tak nyaman mulai dari pembicaraan ini. Tak kujawab pertanyaannya, hanya kulempar senyum saja.
“Beda dengan istriku, payah, mbak. Perempuan kalau sudah habis operasi caesar itu nggak bisa asyik di tempat tidur”
Tak kutanggapi lagi pernyataannya, pernyataan yang tak sepantasnya dilontarkan padaku.
“Kalau Mbak Siti mungkin hebat saat di ranjang ya, hehehe”
Aku mulai risih dengan pembicaraan ini. Apalagi tatapan mata pak Tomi seolah menelanjangiku. Mataku mencari-cari Bu Siska, tetapi tak menemukannya. Mungkin dia masih di kamarnya.
“Hmmm...saya jadi iri sama suamimu, Mbak”
“Saya pingin juga merasakan “permainan ranjang” bareng mbak Siti”
Aku tersentak kaget. Pernyataannya sudah ngawur ngelantur. Aku sudah muak dan merasa dilecehkan.
“Maaf, Pak!”
Sergahku agar pak Tomi tak melanjutkan pembicaraan.
“Mbak Siti semakin menarik kalau melotot begitu, menggairahkan!”
Aku sudah tak sanggup lagi bertahan di dalam kamar itu. Kalau diteruskan, aku akan dilecehkan bukan hanya secara lisan tetapi lebih. Laki-laki ini benar-benar tak menghargai perempuan apalagi yang berjilbab sepertiku. Aku memang pembantu, tetapi tetap punya harga diri. Pakaian seterikaan belum tuntas kuselesaikan. Setengah berlari aku menghambur ke luar kamar. Segera kuambil sapu untuk menyapu ruang tamu, syukurlah kutemukan bu Siska di ruang keluarga. Badanku menggigil, bibirku bergetar. Belum pernah seumur hidupku aku dilecehkan macam ini. Pak Tomi tak berani mendekatiku lantaran aku selalu berada di dekat bu Siska. Kemudian dia masuk ke kamarnya di lantai atas. Segera kutuntaskan pekerjaanku dan pamit pulang kepada bu Siska.
“Maaf bu, lantai atas tidak saya bersihkan, saya agak sakit”
Aku tak berbohong, badanku memang terasa lemas. Terlebih perasaanku.
“Ooh, iya gak papa, mbak Siti. Ini sekalian gaji yang kemarin”
Sambil memberikan amplop berisi gajiku bulan lalu.
“Terimakasih, Bu. Saya pamit”
“Iya, Mbak. Hati-hati ya”
Segera kukayuh sepedaku untuk pulang. Badanku terasa lunglai, bibirku pun masih bergetar. Air mataku mengucur sepanjang jalan. Pernyataan pak Tomi masih terngiang menyakitkan. Dan hari ini kuputuskan terakhir kalinya aku bekerja di rumah itu.
“Mau tak pijitin, Bu?”
Suara suamiku membuyarkan lamunanku. Aah, suamiku yang sederhana dan perhatian. Sengaja kusimpan kisah hari ini sendiri. Aku tak mau melukai hatinya. Saat dia mengetahui hal yang menimpaku hari ini, pasti tak diizinkannya aku bekerja di rumah pak Tomi bahkan di rumah yang lain. Padahal penghasilanku sangat membantu kelangsungan kehidupan keluargaku.
-------------
Aku bangun dalam sepertiga malamku, kuambil air wudlu. Kutumpahkan seluruh kesahku hanya kepadaNya. Kupinta perlindungan dari segala fitnah dan perbuatan keji.
Friday, March 6, 2009
Catatan Mbak Siti......*^*
Posted by
elly fithriyanasari
at
Friday, March 06, 2009
8
comments
Labels: cerpen
Wednesday, March 4, 2009
Aseeek, dapet Award ^_^

Ups siapa yang dapet Award???? Akyuuu??? Jauuuuuuuh, buuuuk :)) hahaha
Kemarin malam si Ayah pulang dari kantor sambil bawa boneka panda aneh.
"Dari mana nih, Yah?" tanyaku menyelidik, gak biasanya ayah beli boneka segala.
"Dapat hadiah dari kantor" jawab ayah tersipu. (lho kok tersipu???)
"Kok... dalam rangka apa?" tambah penasaran
"Perusahaan ulang tahun, ada award berdasarkan polling di kantor. Nah, aku menang award kategori Paling Pendiam"
Hahaha....Gak heraaaan. Si Ayah tuh emang terkenal paling pendiem di kantornya *menurutku sih jaim* :D hohoho, piss, Yah!
Dalam rangka memeriahkan ulang tahun perusahaan tempat si Ayah bekerja, diadakan polling dengan kategori aneh-aneh yang ditujukan ke sekira seratusan karyawan. Nah si Ayah menang kategori paling pendiam.
Untung aja nggak dapat award kategori paling dekil hihihi. Karena ada salah satu karyawan yang mendapatkan award dengan kategori tersebut. Kalau sampai dapet, mau ditaruh di mana mukaku sebagai istriiiiiiii :(
Malang, Rabu,040309
Posted by
elly fithriyanasari
at
Wednesday, March 04, 2009
0
comments
Labels: diary
Monday, March 2, 2009
Wedang Jahe Hangat, hmmm...*^

"Bung..bung..bung.." bukan teriakan orang manggil pemuda selayaknya tahun 60an lho!
Itu bunyi bunyi perutku yang kembung minta ampun. Bukan maagh lho, tapi gara-gara masuk angin *ngira2 sendiri* :D
Gimana gak masuk angin, laah beberapa hari ini malang duingin bianget.
Hujan mengguyur nyaris tanpa henti sejak seminggu terakhir.
"Mana ujan, bechek, gak ada ojhek" menyitir Cita Laura :D hihihi
Alhasil masuk angin deh, badan pegel-pegel, perut kembung.
Celingak-celinguk ngobrak-abrik isi kulkas, aaah, akhirnya nemu beberapa ruas jahe dan kayu manis.
Dapat ide untuk bikin wedang jahe nih.
Segera kukeluarkan kedua bahan itu. Setelah mengupas kulitnya, jahe kucuci lalu kuparut.
Jahe yang telah diparut kurebus bersama dengan kayu manis. Hmm..aromanya sedaap :D
Tapi kayaknya kok masih kurang ya, hmm... sere!!!
Aku segera ke luar rumah untuk mengambil beberapa batang sere.
setahun yang lalu aku menanamnya di depan rumah, semula sih hanya tiga bulir kutancapkan.
Sekarang berubah jadi tiga dompol rimbun banget. Lumayan buat ngusir nyamuk :D hihihi
Sere yang telah kuambil, kucuci lalu dicemplungin ke panci bareng jahe dan kayu manis.
Hmmmm...aromanya tambah suedddappp....*ngiler*
Hmmm....maghrib datang, slruuuup...aahhhh..wedang jahe hangat menjadi minuman pembuka puasa.
Mana hujan-hujan dan duingin begini, nikmat banget deh :D hohoho
Arsyad sudah bobok, si ayah masih di kantor.
Ngeblog ajah aaah...ditemani secangkir wedang jahe hangat plus roti bakar, hmmm nikmat.
Badan jadi anget banget. Nikmatnya lagi, kembungku ilaaaaang.
Hayooo, sapa mau wedang jahe? Ke Malang ajah :P
Posted by
elly fithriyanasari
at
Monday, March 02, 2009
5
comments
Labels: diary
Wednesday, February 25, 2009
Langit-Langit Desa

Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Muhammad Zuhri
Muhammad Zuhri, dalam karya tulisnya kali ini yang berjudul Langit-langit Desa: Himpunan Hikmah dari Sekarjalak.
Buku ini pada tahun 1993 pernah diterbitkan oleh Mizan, pada tahun 2004 diterbitkan oleh Yayasan Barzakh, tahun 2008 diterbitkan oleh Kreasi Wacana Yogyakarta. (Saya hanya memiliki terbitan Mizan dan barzakh, sedangkan terbitan Kreasi Wacana belum dapat.)
Buku ini merupakan himpunan hikmah perjalanan hidup dari Sekarjalak. Sekarjalak adalah desa kecil di wilayah Pati, Jawa Tengah. Di desa inilah penulis tinggal dengan kesibukannya sebagai “pelayan ruhaniah” kepada para tamu tak diundang. Kebanyakan dari mereka adalah para pencari yang tidak pernah menemukan solusi hidup mereka. Penulis yang asal namanya Muhammad bin Zuhri ini, memiliki ciri unik sejak kecil. Yakni menaiki dan turun sepeda dari sebelah kanan. Seolah sebagai isyarat tentang jalan hidupnya kelak.
Buku ini merupakan buah karya yang dituliskan berdasarkan pengalaman dalam perbincangan dengan tetamunnya. Yang saat dibaca ampu memberikan pencerahan serta hikmah yang dapat dipetik oleh pembaca.
Membaca karya ini kita akan selalu merasakan sinar pencerahan dari setiap kata yang tersusun indah. Betapa tidak! Bermula dari ilmu dan Laku Kalinyamat—telanjang berbusana rambut, atau menurut Shinta, “Gelung rusak wor lan kisma” (terurainya gelung sampai rambutnya menyentuh tanah)—yang oleh para zahid di pantai utara disublimasi menjadi: puasa telanjang berjubah janggut.
Lebih lanjut, buku yang ditulis Pak Muh, juga diliputi oleh suasana dzikrullah. Misalnya, “Kalau engkau senantiasa ingat akan samudera, hatimu akan menganggap kecil terhadap kolam air yang engkau miliki,” merupakan kata-kata sederhana tetapi memiliki kedalaman makna. Sehingga pembaca perlu sedikit merenung untuk menangkap isi dan makna yang dikandung.
Bisa dikatakan buku ini begitu mengesankan karena banyak hikmah yang bisa diambil di dalamnya, juga karena penyajiannya yang relatif baik. Buku ini tidak hanya mengajak kita ber-tafakkur dan tadzakur. Melainkan kita bahkan diajak ber-tadzabbur, yakni bermata keibuan–penglihatan yang dapat melihat anak yang sangat dicintainya meskipun ia tinggal di balik bumi.
Sebagai sebuah buku sastra, di dalamnya banyak terdapat maksud yang tidak mudah dicerna. Sehingga kesan yang didapat kadang masih membingungkan. Maka perlu membaca berulang-ulang untuk memperoleh pemahaman.
Secara keseluruhan buku ini mengandung 144 buah hikmah. Masing-masing hikmah di dalamnya memiliki makna yang berbeda-beda. Diawali dengan hikmah yang berjudul Yang Telanjang Berjubah Janggut, yakni ilmu dan Laku Kalinyamat. Kemudian ditutup dengan hikmah Rahasia Mukjizat. Hikmah terakhir tersebut merupakan pengalaman perbincang-an antara seorang guru dengan wartawan.
Dengan bahasa yang jernih dan sarat makna, buku ini bukan sekadar bacaan waktu luang. Melainkan sebagai bahan renungan para pembaca.
Silakan baca deh :)
Posted by
elly fithriyanasari
at
Wednesday, February 25, 2009
0
comments
Labels: resensi
Monday, February 23, 2009
Untukmu Segalanya

Category: Books
Genre: Parenting & Families
Author: Karyn Seroussi
Untukmu Segalanya : Perjuangan Ibunda Seorang Anak Autistik Mengungkap Misteri Autisme dan Gangguan Perkembangan Preservasif
Salah satu ungkapan Karyn "Austisme? Aneh sekali, aku merasa tenteram mendengar diagnosis itu. Sungguh menenangkan mengetahui bahwa gangguan yang diderita Miles punya nama. Aku pun sedikit lega karena kegelisahanku selama ini mendapat pengakuan. Tapi, itu tak lama tiba-tiba kurasakan aliran adrenalin yang memuncak. Jantungku pun berdetak lebih kencang".
Ketika Miles didiagnosis menyandang autisme paad usia 19 bulan, Karyn Seroussi bertekad melakukan apa pun agar putranya itu dapat berfungsi sebagaimana anak-anak pada umumnya. Selain menerapkan terapi bicara dan modifikasi perilaku paad Miles, Seroussi juga memberikan sebagian besar energi dan waktunya untuk melakukan riset, mencari pendekatan alternatif.
Menyelisik berbagai makalah kesehatan, membentuk jaringan komunikasi dan konsultasi dengan para orangtua anak autistik, juga berselancar di internet, Karyn dan suaminya yang ahli kimia menemukan bahwa gangguan yang dialami Miles berpangkal dari kerusakan sistem kekebalan tubuh yng muncul beriringan dengan saat vaksinasi. Akibatnya, sistem pencernaan Miles tidak dapat mencerna sejumlah protein tertentu misal kasein (semacam protein susu) dan gluten (semacam protein gandum), dan ini menyebabkan perkembangan otak yang tidak normal. Mereka pun yakin ada hubungan erat antara autisme dan diet. Oleh karena itu, mulailah Karyn dan suaminya bekerja keras - Karyn menerapkan program diet untuk Miles di rumah, sementara sang suami menguji teori mereka di laboratorium tempatnya bekerja.
Untukmu Segalanya merupakan catatan yang menggugah sekaligus menegangkan tentang kegigihan seorang ibu melawan berbagai tantangan - termasuk kemapanan ilmu kesehatan - demi mengupayakan kesembuhan putranya.
Saya baca buku ini sudah lama sekali, saat masih kuliah. Informatif namun tak menggurui. Berasal dari pengalaman pribadi yang ditulis dengan apik oleh Karyn.
Tak ada seorang ibupun yang menginginkan anaknya terkena autisme. Pun juga saya. Agak ngeri membayangkannya. Tapi banyak pelajaran penting yang bisa saya ambil dari buku ini.
Posted by
elly fithriyanasari
at
Monday, February 23, 2009
2
comments
Labels: resensi
Thursday, February 19, 2009
^Si Miuw telah Kembali^

Meooong!!...meooongg!!!
Jeritan Si Miuw membahana dalam rumah. Arsyad sampai terkejut mendengarnya.
Si Miuw masuk rumah dengan melompat dari jendela ruang tamu.
Kondisi Miuw kali ini berbeda dengan biasanya.
Dia tampak lusuh, agak kurus dengan rambut yang tak beraturan.
Suara meongannya tak seperti biasanya. Bukan hanya bernada memerintah, tetapi jeritan histeris.
"Aku pulaaaaang, aku lapaaaar, aku capeeeek!!!!" Kira-kira begitu terjemahannya.
segera kusiapkan makanan super enak, dan susu.
Miuw makan dengan kalap, kalaparan syiih :D hohoho
Dalam sekejab makanannya habis, hanya saja susunya tak mampu dihabiskannya. Kekenyangan barangkali :D hihihi
Ayah Arsyad yang masih dikantor kukabari kalau si Miuw sudah balik lagi.
"Fiuuuh... Syukurlah :)" ujar Ayah Arsyad lega.
Iin, adik ayah Arsyad yang sekarang di Jakarta pun turut lega begitu tahu si Miuw kembali.
Aaah, akhirnya kucing kesayangan Arsyad dan ayah balik juga.
Tiga hari sudah si Miuw tak pulang membuat ayah Arsyad gusar tak karuan.
Saya dan ayah Arsyad sampai keliling kompleks untuk mencarinya, siapa tahu mungkin nyasar atau luka sehingga tak kuat untuk berjalan pulang.
Namun usaha yang kami lakukan nihil.
"Di mana si Miuw, masih hidup gak ya?" gumam ayah cemas.
Memang tak seperti biasanya, Miuw yang tak banyak ulah bisa juga menghilang.
Dibandingkan dengan Induknya, si Puss Elek. Si MIuw bisa masuk kriteria kucing kampung "priyayi".
Jika si Puss Elek punya kegemaran "mengorek" isi tempat sampah, si Miuw sama sekali tak tertarik.
Yang biasa dilakukannya hanya terpekur memandangi ulah simboknya mengais rejeki di tempat sampah.
"Ihh...gak level!!!" Begitu barangkali terjemahan bahasa tubuh si Miuw *sok tahu mode on* :D
Tak tahu apa sebab si Miuw bisa menghilang selama tiga hari.
Kami telusuri sehari sebelum kejadiannya, tak ada yang aneh dngan si Miuw.
Jatah makan juga tak telat diberikan, juga tidak dikurangi.
Hmmmm....Apa mungkin begitu tabiat kucing yang beranjak remaja ya.
Karena sekira setahun yang lalu si Puss Elek pun pernah hilang selama dua hari.
Pulang-pulang dalam keadaan badan kurus kering dan linglung. Ada-ada saja :D hahaha
Temans ada yang tahu gak, kenapa tabiat kucing suka aneh-aneh.
Tapi hebatnya beberapa hari tak pulang, tapi mereka masih bisa kembali lagi.
Padahal mereka kan gak bawa peta ya :D qiqiqiq
NB:
Foto diambil dua jam setelah si Miuw kembali. Kurus ya :( hiks
Untuk tahu cerita sebelumnya tentang sejarah si Miuw dan Sipus Elek, langsung klik dan baca postingan ini "Hikayat Si Puss Elek".
Malang, senin, 160209
Posted by
elly fithriyanasari
at
Thursday, February 19, 2009
0
comments
Labels: diary
Monday, February 9, 2009
Gara-gara Luna Maya

Sabtu kemarin agak terjadi kehebohan di kantor ayah Arsyad.
Apa sebab? Karena si cantik Luna Maya datang.
Siapa coba yang gak kenal Luna Maya.
Artis cantik yang karirnya tengah naik daun ini didaulat menjadi Ikon perusahaan tempat ayah Arsyad bekerja sejak setahun ini.
Dasar anak-anak Malang jarang ketemu artis ibu kota, girang bukan kepalang saat Luna datang :D hehehe
Nah di rumah juga sempat agak heboh, pasalnya ayah Arsyad menolak saat aku mengajaknya ke kantor. Laaah jarang-jarang ketemu artis cantik kaaan... itung2 ketemu kembaran! Gubrakkk!!! *ngaca dooong* :P
"Buat apa, libur kok ke kantor. Mendingan tidur" katanya
"Laaah, kan jarang-jarang , Yah" sanggahku
"Halah, gak penting ah. Males aku." lanjutnya
"Yaaaaahhhh..." Aku mendesah dengan ekspresi agak kecewa *padahal tipu-tipu :P khu khu khu*
"Naaah, kalau yang datang pak Amin Rais, aku mau datang!"
"Huuu... ayah jaim tuh" aku seenaknya nuduh :D hihihi
"Biarin!, emang gak penting kok! Wong cuma Luna Maya aja!" balasnya
Sejujurnya aku sih gak pingin-pingin amat untuk ketemu Luna. Cuma pingin godain ayah ajah. Gimana reaksinya saat ada artis cantik.
Meskipun sebenarnya agak sayang juga sih. Coba bayangin, jarak kantor dengan rumah hanya tiga menitan naik motor, kalau jalan paling cuma sepuluh menitan.
Tapi memang dasar si Ayah sok jaim! :P *piss, Yah*
Sebagai ganti karena ayah tak mau mengajakku ke kantor untuk ketemu artis cantik.
Ayah mengajak aku dan Arsyad ke Tempat favoritnya, Toga Mas.
"Aseeeeekk..." girang dalam hati.
Akhirnya kami bertiga meluncur ke Toga Mas. Arsyad juga kegirangan lihat buku warna warni :D
Alhamdulillah, aku bertemu dengan bukunya Pak Muh yang judulnya "Hidup Lebih Bermakna". Mana buku ini tinggal satu-satunya pula, fiuhhh :-O
Ternyata ganti gak ketemu Luna Maya malah lebih nikmat :D hihihi
Syukurlah ayah Arsyad kekeh gak mau ke kantor, meskipun terus-terusan kuledek "ayah jaim". Tapi sejujurnya aku yang lebih senang :D hohoho
Malang, Ahad 080209
Posted by
elly fithriyanasari
at
Monday, February 09, 2009
2
comments
Labels: diary
